A

s

s

a

l

a

m

u

'a

l

a

i

k

u

m

Selasa, 20 Maret 2012

Lalai dalam Shalat

Kewajiban umat islam bukanlah hanya sebatas mengerjakan shalat, tapi juga harus melaksanakan shalat tepat pada waktunya. Dalam Al-Quran kita dapat menjumpai salah satu ancaman Allah terhadap orang-orang yang melalaikan shalat, yaitu dalam
surat Al-Maun ayat 4-5 yang artinya:
“ Maka celakalah orang yang shalat. Yaitu yang lalai dalam shalatya” (QS:Al-Maa’uun:4-5)
Dari ayat di atas, dapat daimbil kesimpulan bahwa orang yang shalat bisa jadi celaka bila mereka lalai dalam shalatnya. Oleh ahli-ahli tafsir Al-Quran yang mu’tabar, lalai dari shalat itu dikelompokkan atas:
a. Lalai dari niat.
Niatnya bukan karena Allah dan tidak untuk mencari keridhaan Allah.
b. Lalai dari waktu.
Ketika waktu shalat telah tiba dan azan telah dikumandangkan, tetapi ia masih menunda-nunda shalatnya.
c. Lalai dari kaifiyat shalat.
Ia shalat, tapi kaifiyat shalatnya tidak seperti rasulullah.
d. Lalai dari ruhnya shalat.
Ia shalat tetapi tidak khusyuk di dalam shalatnya, hanya seperti gerakan badan saja.
e. Lalai dari hakikat shalat.
Hakikat shalat adalah untuk mengingat Allah, tetapi hati dan fikirannya tidak mengingat Allah.
f. Lalai dari hikmah shalat.
Hikmah shalat adalah mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Firman Allah dalam surat Al-Ankabut ayat 45 yang artinya:
“Dan dirikannlah shalat, sesungguhnya shalat itu dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar” (QS: Al-Ankabut: 45)
Orang yang lalai, maka perbuatannya tidak akan terpelihara dari hal-hal keji dan mungkar
Read more...

Hakikat Shalat

Shalat secara bahasa dalam bahasa arab berarti do’a, sedangkan menurut istilah merupakan serangkaian ibadah yang dimulai dengan takbiratul ikhram dan diakhiri dengan salam, dengan memiliki syarat dan rukun tertentu.
Tidak dapat diragukan lagi bahwa shalat merupakan kesenangan hati bagi orang-orang yang mencintainya dan merupakan kenikmatan roh bagi orang-orang yang mengesakan Allah. Shalat merupakan rahmat Allah yang diberikan kepada hamba-Nya. Allah menuntun dan memperkenalkannya sebagai rahmat dan kehormatan bagi mereka, supaya dengan shalat itu mereka memperoleh kemuliaan dari-Nya dan keberuntungan karena berdekatan dengan-Nya. Bila itu benar-benar telah kita rasakan, maka niscaya shalat yang merupakan suatu kewajiban tidak akan terasa berat lagi, karena kewajiban yang berat itu telah berubah menjadi suatu kebutuhan yang harus terpenuhi.
Allah memerintahkan shalat bukan karena butuh terhadap mereka tapi justru memberikan karunia kepada mereka. Dengan shalat itu, hati dan seluruh anggota tubuh beribadah, dan dengan itu Allah menjadikan bagian hati lebih sempurna karena ia merasakan kesenangan dan kelezatan ketika berdekatan dengan-Nya. Mereka juga merasakan kenikmatan karena mencintai-Nya, merasakan kegembiraan kaerena berdiri di hadapan-Nya, tidak berpaling selain kepada Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang, seraya menyempurnakan hak-hak ubudiyah kepada-Nya.
Read more...